Selasa, 10 Mei 2011

Ini soal selera, Bung!

Obrolan singkat dengan salah seorang senior (yang sebenarnya saya belum pernah melihat wujud aslinya :hammer). Beliau menghujat saya dengan perhatian-perhatian pedas dalam bersepeda. Tentang betapa shocknya beliau pas tau sepeda saya tanpa rem sedangkan saya ­sama sekali belum bisa skid atau midskid, dan masih banyak hal lain yang jujur membuat saya merasa malu, risih, dan tetap berterima kasih.

Ya, jelas saya malu. Berulang kali rasanya saya bilang bahwa saya memilih sepeda ini bukan karena saya mengikuti trennya ababil, but see, penampilan sepeda saya dinilai ababiiil bangeeet  sama beliau. No offence  sih sebenernya. He’s totally right! Dia ingin kami para bikers bisa selamat sampai tujuan, nggak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. BETUL OM, ANDA BETUL! Ah tapi bukan sagitarius kalau nggak keras kepala alias ngeyelan. hihiihi..  Di samping karena memang budget buat beli rem belum ada, saya memang tidak berniat untuk membeli rem. Sekali lagi bukan karena saya ababil. Lha wong saya naek sepeda itu Cuma untuk rute kosan-kantor tok til kok, nggak kemana-mana lagi. Nggak ada yang bisa maksa saya untuk ikut Car Free Day-an, kampanye bike2work, atau ikut sejuta kegiatan komunitas sepedaan lainnya kan? Kalaupun ada orang-orang tertentu yang ingin saya ikut atau memaksa ikut itu, apa bedanya saya dengan para ababil yang ikut-ikutan temen-temennya ngumpul? :hammer

Risih. Hmm.. risih lah diomelin, dihujat.. ups ekstrim amat bahasanya. Bukan berarti saya tidak ingin menerima kritikan, tapi kalau sampe diminta janji kaaan rasanya kaya’ saya ini seorang pesakitan. Medan yang saya lalui bukan tanjakan tajam atau berbukit-bukit. Perlukah anda menguntit saya untuk membuktikan bahwa saya beneran ngesot-ngesot ke kantor saking hati-hatinya? Dan saya cukup tau diri untuk tidak ngebut. U just don’t know me so well, but u had judged me like that! Pahami dulu motif saya, jangan langsung men-judge. 

Berterima kasih. It is so clear, bagaimana pun saya sangat berterima kasih atas kritikan dan saran anda.
Well, rasanya berkumpul dengan suatu komunitas itu menyenangkan. Tapi tak jarang juga membuat kita muak ketika beberapa dari mereka mulai mengatur kita hanya didasarkan pada apa yang mereka lakukan atau mereka ketahui. Saran boleh, tapi nggak boleh maksa donk..
:p

Anyway, saya masih dan tetap cinta mati pada fixie saya. Saya akan hati-hati kok di jalan. Untuk komunitas  yang satu ini, mungkin sekarang sudah saatnya saya mulai vacuum. Saya rasa komunitas ini terlalu tinggi taste nya. saya yang pemula menjadi kaum marjinal, yang tersisihkan. Untuk kesekian kalinya mungkin saya akan bilang:
1.    Saya jatuh hati pada fixie, yang minimalis, yang ringan, yang macho, sporty tapi tetap bisa menjadi feminin karena warnanya yang cantik;
2.    Saya hanya ingin bersepeda. (titik). Tidak perlu segala tetek bengek tentang merk sparepart yang mahal, yang nyaman, yang seharusnya menurut mereka. This is my style, please dont force me to follow ur opinion!

3.    Jangan tanya lagi mengapa bukan sepeda lipet atau sepeda girly lainnya! Ini soal selera buung, emang pria doank yang boleh punya selera?
:p
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar