Senin, 09 Mei 2011

Tentang pemulung tua- gender: lelaki.

Mengapa setiap kali melihat pemulung yang berjenis kelamin pria saya merasa lebih iba daripada pemulung wanita? Apakah ini sebuah kelainan semacam oedipus complex?! Siyaaal! Bukan lah, emang saya cewek cantik apaan! :p
Semua berawal dari kata KAKEK. Saya punya dua kakek kandung (rasanya semua orang didunia ini pasti punya dua deh yang kandung :hammer). Mbah Mitro, kakek saya dari keluarga ibu, alias bapaknya ibuk. Beliau adalah seorang sosok yang tegas, yang disegani oleh orang-orang di kampung saya, bahkan konon juga disegani oleh binatang melata yang bernama: ular. Entah cerita mistis darimana, tapi kata orang-orang di rumah dan sekitarnya, ular selalu hormat pada mbah Mitro. Beberapa ular gedhe konon dengan lulut dan manutnya tunduk kepada mbah. Bahkan kata ibuk, dulu beliau pernah bertarung dengan seekor ular raksasa yang tinggal di goa dekat kuburan di daerah mbaros (kampung sebelah). Nggak tau itu beneran bener atau nggak, yang jelas saya kagum pada kakek saya yang satu ini. And guess what? Beliau meninggal dunia saat saya masih SD. ;( ;( ;(
Memori yang selalu saya ingat saat bersama beliau adalah setiap pagi, dengan ditemani segelas kopi hitam, beliau duduk di bangku depan rumah, memakai sarung dan momong kami, cucu-cucunya. Tuuuh kan jadi kangen mbah.. hiks.
Hufh..
Oke deh, langsung lanjut ke kakek saya yang kedua. Kakek dari keluarga bapak, alias bapaknya bapak. Mbah Bas namanya. Beliau tampak gagah dan selalu sehat, tidak merokok, rajin beribadah (beliau mengurus masjid di kampungnya), dan juga mantan atlit sepakbola terkenal tempo dulu (terkenal di kampung :p). Ah saya juga ngefans sama kakek yang satu ini. Beliau juga suka travelling dan rajin mengunjungi kami, cucu-cucunya yang kebetulan berumah agak jauh (15 menit perjalanan by angkot sih :p). Pokoknya hal yang paling saya sukai dari beliau adalah rajinnya beliau dalam hal beribadah, tiap adzan pasti ke Masjid. All thumb up lah buat mbah Bas. Banyak memori  tentang beliau yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Dan di suatu pagi, saat saya akan mengikuti try out bahasa inggris SMA (saya kelas 3 SMA waktu itu), saya mendapatkan telepon dari sepupu saya. “gek opo nduk? Tak omongi tapi dian kudu kuat yo.. dian saiki mulih, mbah Bas dipanggil sing Maha Kuasa..” (lagi apa, Nduk? Mbak beritahu tapi dian harus kuat ya, mbah bas dipanggil yang maha kuasa). DEG! Tanpa pikir panjang saya pun pulang menempuh perjalanan 1,5 jam untuk tiba di rumah mbah. Nggak bisa nahan buat nggak nangis saat melihat sosok yang selama ini saya kagumi, dengan tubuhnya yang masih tampak gagah, terbujur kaku di atas pembaringan. Untuk pertama dan terakhir kalinya (setelah saya dewasa ini) saya mencium beliau. Nangis nih nulisnya. Wanna stop this story soon, sampai saya kuat untuk cerita lagi L
Well, jadi karena saya sudah tidak punya kakek lagi, saya merasa selalu iba melihat seorang pria tua yang masih bekerja berat. Dimana sih cucu-cucunya? Dimana anak dan keluarganya? Tega banget si kakek kerja kaya’ gitu!
Itulah...


Kangen kakek kangen kakek kangen kakek...
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar