Jumat, 27 April 2018

kerja atau keluarga?

beberapa kali aku mendengar dari beberapa orang yang sangat berdedikasi tinggi pada kantornya, yang "rela" dan "berprinsip" bahwa "kita harus profesional, mendahulukan kepentingan kantor dibanding kepentingan keluarga!".
di kesempatan lain saya mendengar pula bahwa "HP saya selalu on 7x24 jam, kapan pun dini hari pun saya siap bangun dan bekerja, untuk kantor."
saluut yaaa... saluuuut... mungkin memang negara ini butuh orang-orang serupa itu kali ya biar bisa maju. kali.. mungkin.. atau mungkin juga nggak?

hmm.. jadi ingat di salah satu forum parenting, pematerinya menceritakan bahwa ada seorang pejabat yang begitu sibuk mengurusi rakyat hingga tidak mengurusi keluarganya,, ketika anak pejabat itu bertanya mengapa? si pejabat bilang bahwa beliau sibuk mengurus umat/masyarakat.. kemudian si anak berkata "aku juga umat/masyarakatmu.."
di lain kesempatan, pernah juga membaca tentang "jangan sampai kita begitu dicintai dan dihormati oleh orang-orang, tapi keluarga kita sendiri justru tidak mencintai dan menghormati kita."

Pernyataan menarik ini beberapa kali ditanyakan dengan versi berbeda pada saat wawancara kemarin, intinya semisal kamu udah pulang trus tetiba ada urgent banget, sehingga kamu harus balik ke kantor, apa yang akan kamu lakuin?
hmm.. menurutku sih sebenernya ini pertanyaan yang bisa dijawab secara normatif ya.. ehehe.. tapi amazing juga sih jawaban orang-orang ada yang begitu idealisnya..
klo menurutku sih, situasi urgent kan nggak tiap waktu ya, sekali-sekali doank gitu.. ya nggak papa juga sih harus balik kantor. walaupun sebelum memutuskan untuk balik kantor, ya kita liat dulu, harus banget kaah kita ke kantor, atau bisa diatasi dari rumah.
hari ginii gitu lhoo.. teknologi udah makin canggih..

well, di kantor ini nggak jarang juga pulang ontime seolah menjadi aib, menjadi standar bahwa orang kerjanya biasa aja jika dibanding dengan mereka yang pulang malam..
padahal, pada umumnya orang-orang yang pulang ontime justru mayoritas orang yang dengan optimal menggunakan waktu kerjanya. pokoknya semua kerjaan harus kelar jam 5! mereka punya kehidupan lain yang perlu dijalani, makanya waktu kerjanya optimal..
sementara beberapa orang yang pulang malem, (nggak semuanya ya) justru nggak ngapa-ngapain di malam harinya, nunggu malem doank gitu.. ada juga yang siangnya gk optimal, geje, trus begitu sore kelimpungan. time managemetnya nggak OK. bayangin aja klo orang-orang jenis ini banyak, udah negara boros listrik, rugi pula bayar mereka uang lembur.
tapi nggak semuanya ya yang pulang malem gitu,, IMHO sih, klo memang harus lembur, ya lembur. tapi klo nggak perlu, hemat hemat lah listrik negara ini, dan jaga juga kewarasan kita dengan worklife balance, pulang ontime, ketemu keluarga, temen, ngaji, etc.. nggak kerjaan doank..
nah, lembur pun harusnya nggak tiap hari kan ya? klo lembur tiap hari, artinya nggak sehat donk beban kerja pegawai kita, alias kurang orang.. dalam jangka panjang, orang-orang yang lembur, menguras otak dan energinya di depan PC sampai malam tiap hari juga bakal nggak sehat jiwa raganya.. come on, sosialisasi sama makhluk hidup lain bernama manusia, lagilagi biar tetep waras..


nah, jadi, kesimpulannya apa?
hehe... ngelantur ya..
kesimpulannya, kerja untuk keluarga, ya tentu keluarga harus jadi yang utama.. tapi bukan berarti melalaikan pekerjaan kita donk.. tanggung jawab pada pekerjaan juga amanah yang harus kita selesaikan. Namun pada akhirnya ketika dengan bekerja justru keluarga kita terabaikan, bisa jadi kerjaan kita jauh dari keberkahan.. saat itulah resign harus segera diputuskan.


btw, kenapa belum resign juga mba?
lain kali kita bahas yaa.


-dee-


Reaksi:
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar