Selasa, 31 Desember 2019

hijrah finansial #1: perjalanan hingga akhirnya sadar..

Apakah membicarakan keuangan bersama Suami menjadi hal yang sudah rutin dilakukan dalam keluargamu? atau masih menjadi hal yang tabu? apakah mengalokasikan sejumlah uang untuk keluarga besarmu dilakukan dengan saling terbuka dengan suami, atau sembunyi-sembunyi? apakah kalian adalah pasangan yang sama sama bekerja, tapi tabungan segitu-gitu aja karena terlalu banyak "iklannya"?
masa gelap pengelolaan keuangan keluarga
Menjalani rumah tangga selama lebih dari 6 tahun sebagai suami istri yang sama-sama bekerja dengan penghasilan yang alhamdulillah, seharusnya lebih dari cukup untuk membuat kami bisa memiliki tabungan yang cukuuup. atau aset disana sini.. atau atau atau... pencapaian finansial yang keren..
tapiiii... 6 tahun berlalu dan uang kami masih segitu-segitu aja.. dulu pokoknya penghasilan suami digunakan untuk tabungan dan bayar yang gede-gede macem buat nyicil rumah atau bayar akomodasi buat jalan-jalan.. sedangkan penghasilanku akan kuhabiskan untuk sekolah anak, belanja harian, listrik, dan keluarga yang butuh.. hal itu kami jalani 6 tahun lamanya.. hohoho
flashback sekilas, saat menikah, kami sama sekali tidak punya modal tabungan. karena belum melek riba, kami memutuskan meminjam bank untuk biaya pernikahan. Apalagi saat itu suami penempatan di maluku tengah sana, sehingga pengeluaran kami untuk beli tiket pesawat juga lumayan.. oiya, aku juga membiayai kuliah adikku, dan suamiku membiayai kuliah dan sekolah adiknya. sekitar 1,5 tahun menikah, alhamdulillah suami pindah ke Jakarta, sebelumnya kami memutuskan untuk membeli rumah di Jombang, Ciputat. DPnya berasal dari menyekolahkan SKku, sementara untuk KPRnya dengan keterangan penghasilan dari suami.. lagi lagi saat itu kami berada di masa gelap, masih belum peduli dengan riba..

cahaya itu mulai datang, alhamdulillah..
Suatu ketika aku membaca buku "kembali ke titik nol"-nya Saptuari. isinya sungguh menampar. saat itu sempat rasanya ingin menjual rumah dan segera melunasi segala riba karena begitu ngeri dengan dosanya. Kami mulai mengikuti kajian-kajian tentang riba via youtube. alhamdulillah Allah memberikan hidayahnya. Kami bertekad untuk nggak lagi nambah riba dan tentunya ngelunasin riba satu per satu..

Dari sini lah kami mulai menyadari bahwa ternyata tabungan kami lambat sekali terisi. jika dilihat secara sekilas, rasanya nggak masuk akal aja uang kami tinggal segitu. padahal kami tidak termasuk orang-orang yang sering makan keluar atau jalan jalan berlebihan.. hiks.. pun ketika kami mau membeli mobil bekas, ternyata menunggu tabungan kami cukup pun butuh waktu yang lama..

Hijrah finansial...
akhirnya, sebuah keputusan besar pun kami ambil. kami mulai saling terbuka tentang bagaimana pengelolaan keuangan kami. kami menyadari bahwa dulu kami begitu "mudah" mengeluarkan uang tanpa rencana pasti. uang kami seolah-olah banyak tapi sebenarnya belum cukup untuk melunasi hutang KPR dan DPnya waktu itu.. tapi kami tidak tega ketika ada saudara ingin meminjam (yang pada akhirnya nggak balik dan membuat hubungan keluarga menjadi renggang).. dengan 3 anak dan keputusan untuk tidak berhubungan dengan riba (dan asuransi) tentu kami butuh biaya yang besar pula untuk menjamin pendidikan mereka kelak.. hingga akhirnya per bulan Juli 2019 ini kami sepakat untuk "menyatukan penghasilan" kami dan mengelolanya dengan lebih profesional dan terbuka.

lanjutannya disini yaa....
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar