Selasa, 07 Januari 2020

Hijrah Finansial #3: Prinsip-prinsip dalam Mengelola Keuangan Keluarga

kelanjutan dari series #HijrahFinansial, saya ingin sharing tentang bagaimana prinsip pengelolaan keuangan keluarga kami, semoga bisa diambil hikmahnya yaa..
1. "Rizki itu sudah PASTI. Keberkahan lah yang kita cari"
pertama kali saya tau quote ini dari Ibu Septi, foundernya IIP: Institut Ibu Profesional.
quote ini ngena banget di hati saya, dan telah menjadi prinsip utama dalam keluarga kami, bahwa rizki yang kami terima dari Allah SWT sudah merupakan hal yang pasti dijamin oleh Allah SWT. takarannya sudah pasti segitu. semangat mencari rizki itu harus! tapi menjemput rizki yang berkah itu HARUS BANGET. Dengan begitu, kami lebih insyaaAllah tidak akan tergoda buat lirik kanan kiri yang memang bukan hak kami.. kami belajar untuk lebih hati-hati pada rizki yang kami bawa pulang: gratifikasi bukan? hak kita bukan? halal nggak? thayib nggak?
contohnya, saat jaman dulu uang taksi untuk dinas luar dibayarkan sesuai dengan standar biaya minimum, maka saya akan memastikan hanya uang senilai yang saya keluarkanlah yang saya terima. sisanya kalau bisa akan saya kembalikan. kalau nggak bisa ke negara, akan saya sumbangkan. intinya nggak akan saya bawa pulang laah.. pernah tuh suatu ketika saya lupa mengeluarkan selisih uang transport yang 100rb, alhamdulillah Allah begitu sayang pada saya, hingga akhirnya saya kehilangan uang 100rb. Allah masih menjaga kami... alhamdulillah..
contoh lain, ketika ada teman yang kebetulan waktu itu saya yang ditugaskan untuk mengurus kepindahan beliau mutasi ke daerah, eh teman ini tiba-tiba memberikan saya hadiah - untuk anak saya.. saat bercerita ke suami, saya diingatkan dengan pertanyaan "apakah jika bunda tidak melakukan pekerjaan itu (mengurusi kepindahannya), dia akan memberikan hadiah ini? apakah teman-teman bunda yang lain juga mendapatkannya?" well.. saya rasa teman saya memberikan itu karena saya membantunya, jadi saya dengan meminta maaf mengembalikan hadiah tersebut. suami saya selalu bilang "nilainya nggak seberapa, tapi kalau nggak halal, repot di kitanya.."
betul ayaaah :")

2. Say NO to RIBA dan Asuransi
Adalah menjadi bagian dari tamparan yang membuat kami berhijrah finansial yaitu kesadaran untuk melek RIBA. memang kami belum bisa 100% lepas dari riba karena kami juga masih menggunakan bank conventional untuk menerima gaji kami, belum lagi dengan uang elektronik yang masih ada berbagai kontroversi tentang unsur riba enggaknya.. tapi RIBA yang kami maksud disini adalah kami nggak akan menggunakan kartu kredit atau terlibat pinjam meminjam atau jual beli yang mengandung unsur riba di dalamnya.
Sedangkan asuransi (kecuali BPJS yang emang udah default dari kantor - dan asuransi gratis dari kantor suami), kami juga insyaaAllah tidak akan mengambilnya. Kenapa? kembali ke bukunya Saptuari "kembali ke titik nol", bahwa asuransi ini mengandung Gharar alias keragu-raguan - gambling - potensial untuk merugikan salah satu pihak.. Jadi, yaa kami nggak mengansurasikan mobil kami (dengan segala risikonya), nggak ambil asuransi pendidikan (jadi kami menabung tiap bulan untuk pendidikan anak-anak), dan nggak ngambil juga asuransi kesehatan lain (selain BPJS dan gratisan dari kantor suami).
Oiya, untuk kartu kredit, dengan berbagai penawarannya yang menggiurkan ituuu,, kami memang sudah sepakat untuk sama sekali tidak menggunakannya. ya karena ada unsur ribawinya itu tadi. inget banget di bukunya Saptuari bilang kalau akad denda di kartu kredit itu sendiri yang menjadikan kartu kredit ini riba, sekalipun kita selalu bayar tepat waktu. contohnya gini: kalau dalam seminar, si pembawa acara bilang "ibu-ibu, ngumpul di sini jam 1 ya, buat yang telat nanti akan dicium sama peserta yang cowok". inilah akad. walaupun kita yakin bakal nggak telat, tapi tetep aja kalau ada perjanjian kaya' gitu sama pembawa acaranya, emang kita mau? pasti kita nggak mau laah yaaa.. jadi gimana donk kalau butuh kartu kredit? alhamdulillah sejauh ini belum butuh sih.. dan apa ya, buat saya yang pada dasarnya nggak bisa liat SALE SALE SALE hahaha.. kalau ada kartu kredit bisa-bisa malah nggak bisa ngatur belanja.. alhamdulillah..

3. Ada sama dimakan, nggak ada sama ditahan = alias jangan ngutang!
alhamdulillah setelah menyelesaikan hutang, saat ini kami nggak punya hutang finansial, dan insyaaAllah kami bertekad untuk nggak akan ngutang. yaa kalau uang kami belum cukup untuk membeli rumah baru atau merenovasi rumah, ya kami nggak akan maksain diri buat minjam. Nabung dulu, kalau sudah cukup baru eksekusi.

4.  Taat Budgeting!
selain jangan ngutang, kami juga harus Taat Budgeting, baik untuk anggaran di bulan berjalan, maupun atas pengelolaan tabungan. kalau dalam keuangan negara biasanya kita bilang "ada pagunya nggak?" kalau mau beli sesuatu. Pun dalam pengelolaan keuangan keluarga, sebelum membeli sesuatu, kami harus cek, ada pagunya nggak? kalau nggak ada ya nggak usah beli.. Eits.. kalau nggak ada pagunya tapi urgent gimana donk? hehe.. revisi DIPA #halah..  bisa pakai dana darurat sih, tapi harus bener-bener kuat alasannya yaa.. bukan semata-mata lapar mata gitu. ataaau kalau bener-bener nggak ada anggarannya dan memang pas nyusun pos anggaran kemarin kita nggak kepikiran, ya sementara diambil dari tabungan dulu, tapi di bulan depan kita masukkin "mata anggaran" itu. jadi nggak keasyikan atau seenaknya sendiri eksekusi anggaran yang nggak terencana..
tentang nggak ada pagunya ini kami punya pengalaman, diawal kami nggak menganggarkan untuk bayar pajak mobil motor dan servicenya.. hahaha.. pede amat yak.. hingga pas waktunya mbayar, kami bingung ini mau diambil dari manaa.. karena sisa uang di dana darurat pun nggak nutup.. akhirnya kami ambil dari tabungan investasi kami, dan di bulan depannya kami munculin pos buat tabungan mbayar pajak dan service untuk nantinya kita bayarkan di periode pajak tahun depan.. tax amnesty ceritanya, ditalangin pakai LPS.. haha

5. Investasi boleeh, tapi yang halal yaa
mengelola tabungan - apalagi karena kami nggak pakai asuransi - harus hati-hati. kami sadar sih kalau dari sudut pandang ekonomi, secara time value of money nya kalau nggak pakai asuransi (pendidikan misalnya) bakal jauh banget. Agen asuransi pasti bakal menggoda kami dengan "kalau ibu membayar premi sekian tiap bulan, maka saat anak ibu sekolah nanti ibu akan mendapatkan blablablablablabla.." tapiiii, kami yakin, Allah SWT yang Maha Kaya, maka kami nggak akan kuatir nanti nggak bisa nyekolahin anak kalau nggak ikut asuransi, yang penting kami ikhtiar dengan menabung ini..
Naah, untuk tabungan anak-anak (biaya sekolah) memang belum kami investasikan ke mana-mana.. idealnya mungkin kami tabung jadi emas ya.. hehe.. tapi sementara ini masih kami tabung dalam bentuk uang..
sedangkan untuk tabungan investasi, kami "puter" dalam beberapa jenis usaha. bisa dilihat di postingan tentang rencana pensiun kami.. hehe..
intinya, dalam mengambil keputusan untuk investasi, kami juga akan ngeliat ini halal nggak.. belajar itu wajib. ya kali kita pengen selamat dunia akhirat tapi nggak mau belajar kan? orang pengen lulus sekolah aja kita belajar. contoh:

  • nabung emas -> pelajari gimana hukum jual belinya. apalagi sekarang lagi marak tuh nyicil emas, nabung emas, arisan emas.. hmm.. sependek yang saya pelajari, kalau mau beli emas (batangan), maka uang dan barang harus kita terima pada hari yang sama, untuk menghindari gharar itu tadi. ghararnya gimana sih? misal kita bayar hari ini dengan nilai 500rb tapi emasnya kita terima besok pagi aja, bisa jadi harga emasnya udah 505rb atau 495rb alias udah berubah.. ada potensi pihak yang dirugikan, dan Allah SWT telah mengatur ini dengan clear.. silakan dipelajari yaa
  • obligasi, deposito, sukuk, sun? hmm.. ini saya belum belajar... tapi saya memang belum tertarik dengan yang semacam ini
  • merintis usaha atau franchise-an.. silakan pelajari ya, saya juga tertarik mempelajari ini..
intinya apa ya..
ehm.. mengelola keuangan rumah tangga itu harus seprofesional ngelola keuangan negara.. bener lho ini.. betapa sayangnya kalau kita punya ilmu tentang pengelolaan uang negara, tapi sama sekali kita nggak terapkan dalam pengelolaan keuangan kita..
buat yang single apa lagi,, hehe.. 
kapan-kapan saya tulis tentang "seandainya aku masih single" ya, sebagai perspektif dalam mengelola keuangan dan masa muda #halah #berasatua


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar