Kamis, 02 Januari 2020

Hijrah Finansial #2: tahapan Family Budgeting kami

Setelah di postingan sebelumnya diuraikan tentang bagaimana perjalanan hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhijrah, disini akan saya ceritakan tentang bagaimana langkah-langkah yang kami ambil untuk mulai berhijrah.

langkah 1: pelajari dulu ilmunya!
Sebelum kesana, kami belajar dulu tentang:
  1. apa itu rizki? apa itu nafkah?
  2. bagaimana hukum istri bekerja?
  3. bagaimana hukum rizki yang diterima oleh istri yang bekerja?
  4. bagaimana ketentuan zakat dan kewajiban atas rizki?
  5. kemana sebaiknya membayarkan zakat, infaq, dan sedekah?
  6. bagaimana investasi yang baik menurut islam?
karena kami sadar, bahwa untuk memulai sesuatu yang benar, kami butuh ilmu yang benar pula. tentunya ilmu yang benar menurut islam. adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal. (hal-hal di atas kami pelajari dari youtube-nya ustad Adi Hidayat).

langkah 2: penyusunan Financial Budget Planning: Penentuan Pos-Pos keuangan
Setelah sepakat dengan konsepnya, saatnya kami menyusun financial budget planning. kami susun di googlesheet agar kami bisa bersama-sama mengecek kapan pun. pembagian pos kami seperti ini:

ketr:

  1. Data income ayah dan bunda, dengan ketentuan: tidak seluruh income masuk. misal penghasilan suami Rp8.750.000,- maka beliau saya persilakan untuk menentukan berapa nafkah yang akan beliau berikan ke saya, misalnya Rp 8.000.000,- begitupun untuk saya. mengapa? karenaa saya tidak ingin kami menjadi orang yang begitu cekak finansial atau ngerasa miskin sampai akhirnya nyari kesana kemari buat tambahan jajan.. saya sadar bahwa ada kebutuhan lain-lain yang tidak terduga macem diajak makan teman, harus nraktir teman, ada saudara yang butuh bantuan pribadi dsb..  eits tapi jangan salah, angka Rp 8.750.000nya tadi tetap harus saya ketahui, karena akan saya hitung berapa besarnya zakat mal yang harus dikeluarkan.
  2. Fix cost: menentukan komponen-komponen fix cost, yaitu biaya yang tetap harus kami keluarkan walaupun kami mengalami kenaikan atau penurunan penghasilan. diantaranya: SPP anak-anak, transportasi anak-anak, ART, biaya sewa apartemen, maintenance fee, dan parkir apartemen (untuk setahun kedepan yang dicicil tiap bulan), tabungan untuk uti dan adek ipar, tabungan anak-anak (karena kami tidak menggunakan asuransi pendidikan), dan tabungan kuliah (rutin tiap bulan, bisa kami gunakan kalau ingin kuliah, training, ikut les, ujian, dsb).
  3. percentage cost: ini adalah pos-pos pengeluaran yang besarannya tergantung dengan naik turunnya penghasilan kami setelah dikurangi fix cost. nilainya sudah ditentukan berapa persennya, jadi bisa naik bisa turun gitu tergantung income bulanan. diantaranya ada: ZIS, biaya makan, belanja bulanan, jatah sangu ayah bunda, entertainment, tabungan investasi, biaya listrik, air, bensin, gas, dan internet, pajak2 (dialokasikan tiap bulan untuk membayar pajak mobil dan motor tahun depan), dan dana darurat (buat jaga-jaga kalau ada kondangan atau pengeluaran tak terduga lainnya). detail masing-masing komponennya mungkin kapan-kapan kubahas yaa..
  4. perhitungan zakat mal: berdasarkan ceramah ustad adi hidayat, zakat mal disini dikeluarkan tiap bulan kepada 8 golongan yang wajib menerima zakat dengan besaran 2,5% dari seluruh penghasilan yang diterima (sebelum dikurangi segala pengeluaran/hutang). saya menggunakan prinsip ini, sehingga kenapa di poin 1 di atas saya tetap butuh berapa penghasilan bruto/real dari suami (dan saya sendiri). tentunya saya harus memastikan bahwa zakat mal ini dikeluarkan minimal senilai 2,5% dan kepada yang benar-benar berhak menerima.
  5. ZIS: Zakat infaq sedekah. walaupun besarannya sudah dipersentasekan, disini saya wajib memastikan agar nilainya tidak lebih kecil dari kewajiban zakat mal 2,5% pada poin 4. dari seluruh alokasi ZIS, saya harus memastikan zakat mal nya saya teruskan ke yang berhak menerima zakat. sisanya kami memilih "investasi" akhirat yang insyaaAllah menjanjikan seperti: lembaga yang mengurusi rumah quran untuk anak yatim, pembangunan sekolah-sekolah rusak, dll.
langkah 3: eksekusi!
karena saya adalah bendahara umum rumah tangga, maka seluruh dana operasional ada di bawah tanggung jawab saya. itulah mengapa, seluruh budget operasional berada di rekening saya, sedangkan budget tabung menabung jangka panjang ada di rekening suami. Jadi, tiap awal bulan yang terjadi adalah:

  1. kami setor angka yang akan kami masukkan dalam Family monthly budget kami
  2. saya akan memasukkan kedalam googlesheet dan membagikan linknya ke suami untuk direview.. biasanya sih suami lebih suka kalau saya capturein aja.. wkwk
  3. saya akan merekap berapa yang harusnya ada di rekening suami, yang berasal dari penjumlahan: sewa apartemen, maintenance fee + parkir, tabungan anak-anak, tabungan kuliah, entertainment, tabungan investasi, dan tabungan pajak2, pluuus jatah sangu ayah bulan itu.
  4. setelah dapat angka nomor 3, saya tinggal menghitung berapa yang harus saya transfer ke rekening suami, atau berapa yang harus suami transfer ke rekening saya.
  5. setelah ritual di atas selesai, mulailah saya eksekusi dan catat setiap pengeluaran di sheet kedua dari googlesheet itu.. sesimpel itu..
  6. di akhir bulan akan ketahuan kami masih punya sisa uang berapa (total sisa uang ya, jadi kami nggak serinci itu ngeliat sisa uang per komponen), naah sisa uang itu akan masuk ke pos DANA DARURAT yang ada di rekening suami. kapan setornya? awal bulan berikutnya sekalian itungan bulan bulan baru.
  7. Dana darurat yang di rekening suami itu biasanya kami pakai untuk service motor atau hal-hal tidak terduga yang tidak bisa kami akomodir dari budget bulan ini.
the rules:

  1. kami memang punya uang saku, dan itu bebaas mau kami habiskan atau mau kami kelola seperti apa.. enggak banyak juga btw, 700-800rb sebulan, tujuannya biar kami masih bisa "menikmati" penghasilan kami untuk diri kami sendiri.
  2.  segala penghasilan tambahan macem honor, uang makan, RDK apalah apalah tidak masuk ke perhitungan.. ya itu mah rejeki tambahan, silakan nikmati sendiri, yang penting jangan lupa buat dikeluarkan sedekahnyaa. kan itu hak orang lain yang dititipkan ke kita.
  3. komponen biaya "makan" meliputi seluruh biaya yang kami keluarkan untuk makan sehari-hari, termasuk untuk bekal ke kantor. naah kalau misalnya kami nggak bawa bekal gimana? tenaang, setiap nggak bawa bekal, kita bisa milih: mau beli makan bareng dan ditagihkan at cost (sesuai pengeluaran) atau beli makan sendiri (dengan kompensasi diganti Rp 20.0000,-). ini challenge sendiri sih buat saya biar rajin bawa bekel kalau mau punya sisa anggaran banyak..
  4. kalau ada temen atau saudara butuh pinjaman gimana? naah ini, tanpa bermaksud gimana-gimana ya, tapi beneran sih kami agak trauma kasih pinjem ke temen atau saudara karena sampai sekarang udah banyak yang nggak tertagih.. iya sih kalau cuman nggak tertagih, sayangnya hubungan pertemanan dan kekeluargaan pun jadi renggang.. jadi menjauh gitu.. kok jadinya banyak mudaratnya.. jadi kami sekarang mulai mempertimbangkan kalau ada yang mau minjem gitu.. bukan apa, daripada mudarat dan merusak silaturahmi kan.. naah memberikan pinjaman pun kami batasi hanya maksimal senilai dana darurat yang sudah kami alokasikan di awal bulan tadi. kalau lebih dari itu gimana? rapat dulu!
Apakah dengan alokasi "seribet" ini berasa hasilnya? alhamdulillah iyaaa... justru dengan pengelolaan keuangan yang saling terbuka seperti ini, kami nggak merasa cekak finansial, kami lebih bisa menikmati penghasilan kami tanpa kawatir kami nggak punya tabungan. kalau pengen jalan-jalanpun harus liat budget.. prinsipnya gini:

kalau ada budget: eksekusi. kalau nggak ada budget? ya tahan diri. say NO to hutang. daaan.. habiskan saja gajimu (sesuai alokasi).



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar